18 September 2008 lalu, kapsul Soyuz TMA-9 melesat ke ruang angkasa
dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhtan, membawa kosmonot spesial. Dia adalah
Anousheh Ansari -- wanita turis pertama di dunia, muslimah pertama di dunia, dan wanita Iran pertama yang terbang ke ruang angkasa.
Peluncuran berlangsung tepat pukul 04.09 GMT. Beberapa saat kemudian,
kepada wartawan di Moskow, Kepala Kendali Misi Vladimir Solovyov
mengumumkan, peluncuran berjalan sukses. Ansari, 40 tahun, berangkat ke
awang-awang didampingi kosmonot Michael Lopez-Alegria asal AS dan
Mikhail Tyurin dari Rusia. Wanita berparas cantik ini adalah warga
Dallas, Texas, kelahiran Iran.
Alegria
dan Tyurin akan bertugas di Stasiun Ruang Angkasa Internasional selama
enam bulan, aplusan dengan awak stasiun yang lain. Sementara Anousheh
Ansari - sebagai turis - hanya akan berada di sana sebelas hari lalu
kembali lagi ke Bumi. Dengan demikian master komputer lulusan
Universitas George Washington, AS, yang juga pengusaha sukses ini pun
tercatat sebagai turis ruang angkasa keempat.
Ketiga turis sebelumnya adalah Dennis Tito (berangkat 2001), Mark
Shuttleworth (2002), dan Gregory Olsen (2005). Penerbangan ini
seyogyanya adalah berkah untuk Daisuke Enomoto, pengusaha Jepang. Namun
karena menjelang keberangkatan tiba-tiba sakit, kursi pun diberikan
kepada calon kedua, yakni Ansari.
Ruang angkasa sudah menjadi obsesinya sejak kecil. Maka, beruntunglah
jika kemudian dirinya memiliki banyak uang sehingga mampu membayar tiket
yang diajukan Space Advantures, Ltd. Bersama suami, Hamid Ansari, dan
saudara iparnya, ia tak lain adalah pemilik sejumlah perusahaan yang
bergerak di bidang telekomunikasi di AS.
Pemegang Penghargaan Pengusaha Nasional Terbaik 2000 menurut Majalah Working Woman ini harus membayar 20 juta dollar AS.
Ansari dilahirkan di Mashhad, Iran, 12 September 1966. Pada 1984 ia
kemudian pindah ke AS untuk menuntut ilmu. Ansari pernah menceritakan
bagaimana hebatnya Revolusi Iran yang bergulir pada 1979. Keluarganya
lah yang kemudian memfasilitasi dirinya berimigrasi ke AS.
"Saya pikir, perjalananku ke ruang angkasa hanyalah merupakan
pancaran seberkas cahaya muda-mudi Iran. Untuk mereka ini, membantu
memberikan gambaran tentang masa depan adalah hal positif. Saya amat
prihatin karena sampai saat ini mereka belum bisa keluar dari kehidupan
yang diwarnai perang dan pertumpahan darah," ujarnya kepada Reuter.
Namanya dihormati
Perjalanannya ke ruang angkasa sendiri bisalah dikatakan sebagai salah
satu etape dari keinginannya untuk lebih dekat dengan dunia yang begitu
jauh itu. Etape lain ditempuh dengan cara melibatkan diri dalam proyek
keruangangkasaan global untuk maksud komersial. Untuk itu ia sampai
membentuk firma Prodea, lalu menjalin hubungan dengan Space Adventures,
Ltd. dan Dederal Space Agency of the Russian Federation.
Nama Ansari mulai mengorbit di kalangan peminat keruangangkasaan AS
setelah pada 4 Oktober 2004 menganugerahi hadiah uang sebesar 10 juta
dollar AS kepada Scaled Composites milik Burt Rutan atas karyanya
SpaceShipOne yang gemilang. Pesawat ruang angkasa ini menjadi pemenang
dalam lomba penerbangan partikelir berawak yang bisa dilakukan berulang
dalam selang dua minggu. Hadiah itu semula dinamakan sebagai X-Prize.
Namun atas desakan beberapa pihak, selanjutnya diganti menjadi Ansari
X-Prize.
Sejak itu banyak kalangan kedirgantaraan AS menghormatinya. Itu terjadi
karena Ansari X-Prize dianggap telah meneruskan semangat Orteig Prize
yang pernah diberikan kepada Charles Lindberg atas prestasinya
menyeberangi Samudera Atlantik sendirian dengan pesawat sederhana.
Baginya, hadiah ini lebih ditujukan untuk membangkitkan idealisme
romantika di kalangan perintis penerbangan.
Begitu pun, ada juga yang tak suka dengan penerbangannya. Hal ini
diungkapkan secara terbuka oleh kosmonot Michael Lopez-Alegria. "Saya
sesungguhnya tak setuju dengan penerbangan yang dikomersialkan ini.
Saya bukan pengagum Ansari, tapi menurut saya stasiun ruang angkasa
bukanlah tempat cocok untuk wisata. Stasiun ini masih sedang dibangun.
Untuk mereka amat berisiko," ujarnya.